Home > Ragam Berita > Nasional > Habib Rizieq Dinilai Justru Menaikkan Popularitas Ahok

Habib Rizieq Dinilai Justru Menaikkan Popularitas Ahok

Jakarta – Popularitas merupakan sebuah modal awal bagi para kandidat calon gubernur DKI Jakarta yang akan bertarung pada Pilkada DKI Jakarta 2017 mendatang. Hal tersebut membuat popularitas menjadi salah satu faktor penting untuk dikenal oleh warga sebelum menyoroti masalah elektabilitas para kandidat.

Habib Rizieq Dinilai Justru Menaikkan Popularitas Ahok

Mengenai hal tersebutm Tomi Satryatomo selaku Media & communication entrepreneur, mengatakan Ahok-lah yang memiliki popularitas paling besar diantar ketiga kandidat calon tersebut. Hanya saja kepopuleran Ahok tersebut lebih sentimen ke arah negatif. Hal tersebut lantaran isu SARA yang belakangan ini menjadi polemik.

“Intinya, fenomena (Ahok) populer tapi negatif. Ini tantangan buat dua penantang lain untuk menaikkan popularitas, sambil berusaha menaikkan juga elektabilitasnya,” kata Tomi di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (18/10/2016).

Akan tetapi, Dia menilai bahwa polemik yang terkait soal surah Al Maidah ayat 51 tersebut justru lebih menguntungkan Ahok. Sejak isu tersebut merebak, Ahok lantas menjadi cagub yang paling banyak dibicarakan. Tomi menyayangkan bahwa dua kandidat lain yang seharusnya bisa mengambil keuntungan dari kasus tersebut malah tidak bisa melakukannya.

Seharusnya Ahok berterima kasih kepada Front Pembela Islam (FPI). Pasalnya, Ahok kini menjadi top of mind (berada di puncak pikiran pemilih). Oleh sebab itu, dia menyarankan dalam kontestasi akan lebih efektif apabila Ahok diserang dengan basis perilaku dan kinerja, bukannya diserang mengenai isu SARA yang sempat memanas tersebut.

Pasalnya, isu SARA tersebut justru lebih menyolidkan dukungan terhadap Ahok. Sebaliknya, apabila yang dipermasalahkan terkait mengenai perilaku dan kinerja Ahok, maka itu akan membuat tidak solidnya para pendukung Ahok. Berdasarkan riset yang dilakukannya, Ahok yang diasosiasikan sebagai mulut kasar dan penista agama justru menjadi top of mind. Pemilih hanya menggunakan waktu sekitar satu menit dalam kotak suara saat pilgub.

“Ketika memilih, dia akan memilih top of mind, suka atau tidak suka yang dia ingatlah yang akan dia pilih,” kata Tomi.

(bimbim – harianindo.com)

12465455_10205256660160520_652338149_o

Follow Kami Di Line @harianindo Friends Added

Portal Berita Indonesia

Saran dan Masukan Selalu Kami Tunggu Untuk Kami Membangun Portal Media Ini Agar Bisa Menjadi Lebih Baik Lagi. Hubungi Kami Jika Ada Saran, Keluhan atau Masukan Untuk Kami. Untuk Pemasangan Iklan Silahkan Kontak Kami di Page Pasang Iklan.

Aktual, Faktual dan Humanis

Versi Dekstop